Cadar Progresif




Oleh Anja Hawari Fasya

Sejatinya waktu yang kian berputar menyuguhkan beragam fenomena-fenomena baru di kalangan umat manusia. Salahsatu fenomena yang kini merebak ialah Fenomena Hijrah dadakan di kalangan muda-mudi.Memasuki era digital Muda-Mudi bebas mengakses ilmu pengetahuan dengan cara serba istan, mereka bisa bebas mencari secara kilat qoute-qoute perkara hijrah dan ceramah ustad-ustad youtuber yang kian hari merebak.

Namun sayangnya, budaya kritis kalangan pemudi kita hilang begitu saja, hijrah dewasa ini sudah begitu kerdil hanya sebatas jomblo fi sabilillah dan perkara nikah muda tanpa ada nilai-nilai juang layaknya zaman Rasullah Saw. Kisah-kisah yang di tebar bukan lagi pada level bagaimana perjuangan seorang sumayah di seret lesutan kuda hinga terbelah dan gugur sebagai syahidah, tetapi hanya bunga-bunga romatisme kisah ali dan fatimah memendam rasa hingga menikah.
Kita sadari bahwa islam yang memberikan jalan terbuka bagi kaum perempuan untuk tetap berkarya, seorang rabiah al adawiyah berkontribusi atas kemajuan sastra, Al hafid ibnu zahu, al ghunsa, Aisyah binti al mahdi menghabiskan waktunya berkutat dengan soal-soal kedokteran dan tentunya Aisyah istri rosul merupakan konselor hadist hafal 2.2010 sabda suaminya. Rasanya ada puluhan wanita yang tidak bisa saya sebutkan yang hidup ratusan tahun silam dan mampu menjelaskan kepada wanita hari ini dengan secara langsung memberikan pandangan jelas dan pengetahuan yang luar biasa luas, analisis sungguh-sungguh mendalam disertai argumentasi yang cerdas  tentunya semua itu masih berlaku pada era masa ini.tidak berbau primitf justru membawa kita pada khazanah intelektual yang agak tinggi.

Melihat hal ini, baiknya kalangan hijaber bukan saatnya lagi mempropogandakan tentang memendam rasa di hati paling palung pada ikhwan-ikhwan yang so gentle datang ke rumah, berselfie dengan caption dakwah menunjukan eksistensi trend fashion cadar,membujuk para lelaki supaya menyadari dirinya begitu teramat sholehah. Sudah saatnya kita bergerak bersama menjadi  agen perubahan yang memproduksi ilmu pengetahuan.  Kita harus mampu merebut kembali masa kejayaan umat islam dengan beragam tradisi keilmuan yang mempuni.
Cadar memilki nilai sakral sebab pantulan dari cahaya iman bukan sekedar membabi buta mengikuti arus budaya sekitar, ‘’Aku bercadar maka aku belajar’’. Cadar bukan hanya menutup aurat wajah semata, alangkah baiknya kita bisa mengusahakan menutup kedunguan isi kepala sebab ia merupakan aurat terbesar didalam diri kita.

Dan tentunya kita tetap merendah membuka mata agar tak sinis pada mereka yang hidupnya masih dalam ranah urak-urakan sebab kita tak tahu jalan hidayah allah berlabuh pada siapa.

Kita patutnya teramat bahagia dewasa ini, cadar hari ini bisa bebas di pakai tak seperti beberapa tahun silam.Semenjak terjadi tragedi WTC  9/11 umat muslimah yang bercadar dituduhkan aliran radikalis dan berpotensi menjadi terorisme, padahal dalam hal ini ada skema dunia barat ingin mengusai negara-negara timur tengah yang kaya akan sumber daya alam, lewat propaganda anti kekerasan dan demokrastisasi mereka asyik memboyong minyak dibelahan dunia hingga ludes.

Terlepas dari ini semua, kita seyogyanya pemudi islam menyatakan diri bahwa tugas kita bukan hanya kasur,sumur dan dapur semata. Kelak ada bayi yang lahir dari diri kita, sudikah memberikan asi anak dari rahim ibu yang bodoh ?

Semoga kita tetap semangat menunutut ilmu pengetahuan dan berkutat pada buku-buku !
Share on Google Plus

About Ahsanul Qurun

1 komentar:

  1. Tetap junjung ukhwah..
    Semoga bermanfaat apa yg di usahakan

    ReplyDelete