Mengenal Kutubu at-Tis’ah ( Kitab Hadits yang Sembilan )




Oleh : Ilma Insani Al-Fudhel


1.  Shahîh al-Bukhâri, disusun oleh Imam al-Bukhari, ( 256 H ).

Sekilas tentang penulis :

Al-Bukhari : Nama lengkap beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi, yang berasal dari Persia.
Beliau lahir di Bukhara tahun 194 H dan belau wafat di Khartank, sebuah daerah yang berjarak sekitar dua farsakh dari Samarkandi, pada malam Idul Fitri tahun 256 H.
Beliau memulai perjalanannya untuk mencari hadits pada tahun 210 H, dan kemudian terus berpindah-pindah untuk mencari hadits. Sempat menetap di Hijaz selama enam tahun. Pernah singgah di Syam, Mesir, al-Jazirah, Bashrah, Kufah, dan Baghdad. Beliau memiliki daya hafal yang sangat kuat.

Sekilas tentang kitab :

Metode dan sistematika penulisannya adalah :
1.   Mengulangi Hadis jika diperlukan dan memasukkan ayat-ayat Al-Quran.
2.   Memasukkan fatwa sahabat dan tabi’in sebagai penjelas terhadap Hadis yang      ia kemukakan.
3.   Menta’liqkan (menghilangkan sanad) pada Hadis yang diulang karena pada tempat lain sudah ada sanadnya yang bersambung.
4.   Menerapkan prinsip-prinsip al-jarḥ wa at-ta’dīl.
5.   Mempergunakan berbagai sigat tahammul.
6.    Disusun berdasar tertib fiqih.

Adapun teknik penulisan yang digunakan adalah:

1.   Memulainya dengan menerangkan wahyu, karena ia adalah dasar segala      syari’at.
2.   Kitabnya tersusun dari berbagai tema.
3.   Setiap tema berisi topik-topik.
       4.   Pengulangan hadits disesuaikan dengan topik yang dikehendaki tatkala             mengistinbatkan hukum. 

Jumlah judul (kitab) yang terdapat di dalamnya adalah 97 kitab. Setiap kitab dibagi menjadi beberapa sub judul yang dikenal dengan istilah “bab”. Jumlah total babnya adalah 3936 bab, yang dimulai dengan kitab bad’u al-waḥy, dan disusul dengan kitāb al-Imān, kitāb al-‘Ilm, kitāb al-Wadu’, dan sterunya.




  

2.    Shahîh Muslim, disusun oleh Imam Muslim, ( 261 H ).

Sekilas tentang penulis :

Muslim : Nama lengkap beliau adalaj Abu al-Husain bin Muslim al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi.Beliau lahir di Naisabur pada tahun 204 H dan beliau wafat di Naisabur pada tahun 261 H, pada usia 57 tahun.
Imam Muslim selalu berpindah dari kota ke kota untuk mencari hadits. Beliau pernah singgah di Hijaz, Syam, Irak, dan Mesir. Ketika Imam al-Bukhari singgah di Naisabur beliau menimba ilmu darinya. Imam Muslim banyak dipuji oleh para ulama dari kalangan ahli hadits dan yang lainnya.

Sekilas tentang kitab :

Metode yang ditempuh oleh Imam Muslim dalam menyusun kitabnya Al-Jami' As-Sahih sangat bagus sekali. Beliau menempatkan hadis-hadis yang memiliki kesamaan tema di tempat yang sama, dan tidak menempatkannya secara terpisah atau di tempat yang berbeda. Sehingga kitab Al-Jami' As-Sahih karyanya memliliki nilai sistematika ynag tinggi. Karena memang Imam Muslim tidak memiliki tujuan untuk mengaitkan dengan masalah fikih sebagaimana Imam Bukhori. Oleh karena itu tidak ada hadis yang sama di letakkan pada dua tema yang berbeda. Selain itu apabila ada seorang rawi berbeda dengan seorang rawi lainnya dalam menggunakan redaksi, padahal subtansi dan tujuannya sama,maka Imam Muslim menjelaskannya. Begitu pula apabila seorang rawi menggunakan lafad ا خبرنا ( ia mengabarkan kepada kami ), sedang rawi yang lain menggunakan lafad حدثنا ( ia menceritakan kepada kami ), maka beliaupun menjelaskan perbedaan tersebut.
Kitab Al-Jami' As-sahih yang disusun oleh Imam Muslim diawali oleh mukaddimah yang bernilai tinggi dan bermanfaat. Dalam mukaddimahnya beliau menjelskan haramnya berdusta atas nama Rasulullah, Anjuran agar berhati-hati dalam meriwayatkan, keadaan para perawi dan menerangkan illat hadis, larangan meriwayatkan hadis dari perawi yang lemah dan banyak salahnya, pembagian dan macam-macam hadis, dan hadis-hadis yang ditulis dalam sahihnya. Juga menerangkan bahwa sanad hadis itu adalah bagian dari ketentuan agama, dan menjelaskan panjang lebar tentang berhujjah dengan hadis mu'an'an. Itulah di antara manfaat yang terkandung dalam mukaddimah sahih Muslim.

3. Sunan Abî Dâwud, disusun oleh Imam Abu Dawud, ( 275 H ).

Sekilas tentang penulis :

Abu Dawud : Nama lengkap beliau adalah Sulaiman bin al-Asy’ats bin Ishaq al-Adzi as-Sijistani. Beliau lahir di Sijistan pada tahun 204 H dan beliau wafat di Bashrah pada tahun 275 H, pada usia 73 tahun.
Imam Abu Dawud banyak melakukan perjalanan untuk mencari hadits dan banyak menulis hadits dari penduduk Irak, Syam, Mesir, dan Khurasan. Beliau juga mengambil hadits dari Imam Ahmad bin Hanbal dan beberapa ulama yang lain dari kalangan guru Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Para ulama banyak memujinya dan mengatakan bahwa beliau memiliki hafalan yang sempurna, pemahaman yang teguh, dan memiliki sifat wara’. Imam Abu Dawud telah banyak mewariskan banyak pengetahuan melalui karya-karyanya.

Sekilas tentang kitab :           

Dalam menulis kitab Sunan-nya, Abu Dawud menggunakan sistem penulisan secara mushanaf, yaitu berdasarkan tertib dan rumusan bab-bab fiqh. Dalam kitab ini, Abu Dawud hanya memasukkan hadis-hadis yang materinya berkenaan dengan hukum.
Jumalah hadits yang tercaantum dalam kitab ini adalah 4.800. adapun jika dihitung dengan jumlah hadits yang diulang-ulang maka jumlahnya adalah 5.274 hadits, dengan pembagian keseluruhannya memuat 45 kitab, yang tersusun dari 1.872 bab.

4.    Sunan at-Tirmidzî, disusun oleh Imam at-Tirmidzi, ( 279 H ).

Sekilas tentang penulis :

At-Tirmidzi : Nama lengkap beliau adalah Abu Isa Muhammad bin Surah as-Sulaimi at-Tirmidzi. Beliau lahir di Termiz, sebuah kota di pinggiran Jaihun, pada tahun 209 H. Dan beliau wafat di Termiz pada tahun 279 H, pada usia 70 tahun.
Imam at-Tirmidzi berkeliling ke banyak tempat. Beliau mendengar hadits dari penduduk Hijaz, Irak, dan Khurasan. Para ulama mengakui keunggulan dan kelebihannya, sampai-sampai Imam al-Bukhari sering mengambil hadits darinya, walau pun sebenarnya beliau adalah gurunya Imam at-Tirmidzi.

Sekilas tentang kitab :

Metode penulisan kitab ini adalah judul lengkap kitab al–Jami’al–Shahih adalah al-Jami’al–Mukhtasharminal–Sunan‘anRasulillah Shallallahu ‘alahi wa Sallam wa Ma’rifat al-Shahih wa al-Ma’lul wa Ma’ ‘alaihi al-‘Amal. Meski demikian kitab ini lebih popular dengan nama al–Jami’al–Tirmidzi atau Sunanal–Tirmidzi.Untuk kedua penamaan ini tampaknya tidak dipermasalahkan oleh ulama. Adapun yang menjadi pokok perselisihan adalah ketika kata-kata shahih melekat dengan nama kitab. Al-Hakim (w. 405 H) dan al-Khatib al-Baghdadi (w. 483 H) tidak keberatan menyebut dengan Shahihal–Tirmidzi atau al–Jami’al–Shahih.Berbeda dengan Ibn Katsir (w. 774 H) yang menyatakan pemberian nama itu tidak tepat dan terlalu gegabah, sebab di dalam kitab al–Jami’al–Tirmidzi tidak hanya memuat hadis shahih saja, akan tetapi memuat pula hadis-hadis hasan, dha’if dan munkar, meskipun al-Tirmidzi selalu menerangkan kelemahannya, ke-mu’alal-annya dengan ke-munkar-annya.
Secara rinci sistematika kitab al-Jami’al-Shahihakan dijelaskan sebagai berikut:
Juz I terdiri dari 2 kitab, tentang Thaharah dan Shalat yang meliputi 184 bab 237 hadis.
Juz II terdiri dari kitab Witir, Jumu’ah, Idayn dan Safar, meliputi260 bab dan 355 hadis.
Juz III terdiri dari kitab Zakat, Shiyam, Haji, Janazah, Nikah, Rada’, Thalaqdan Li’an, Buyu’ dan al-Ahkam, meliputi 516 bab dan 781 hadis.
Juz IV terdiri dari kitab Diyat, Hudud, Sa’id, Dzaba’ih, Ahkam dan Sa’id,Dahi, Siyar, FadhilahJihad, Libas, Ath’imah, Asyribah, BirrwaShilah, al-Thibb, Fara’id, Washaya, Wali dan Hibbah, Fitan, al-Ra’yu, Syahadah,Zuhud, Qiyamah, Raqa’iq dan Wara’, Jannah dan Jahannam, meliputi 734 bab dan 997 hadis.
Juz V terdiri dari 10 pembahasan, tentang Iman, ‘Ilm, Isti’dzan, Adab, al-Nisa’, Fadha’ilal-Qur’an, Qira’ah, Tafsiral-Qur’an, Da’awat, Manaqib, yang meliputi 474 bab dan 773 hadis, di tambah tentang pembahasan ‘Ilal.


5.      Sunan an-Nasâ`î, disusun oleh Imam an-Nasa`i, ( 303 H ).

Sekilas tentang penulis :

An-Nasa`i : Nama lengkap beliau adalah Abu Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib bin Ali an-Nasa`i, atau “an-Nasawi” dinisbatkan kepada nama kota “Nasa”, sebuah daerah terkenal di Khurasan. Beliau lahir di Nasa pada tahun 215 H, dan beliau wafat di Ramalah, Palestina pada tahun 303 H, pada usia 88 tahun.
Beliau banyak melakukan perjalanan untuk mencari hadits. Beliau mendengar haidts dari penduduk Syam, Khurasan, al-Jazirah dan yang lainnya. Dan pernah menetap selama beberapa tahun di Mesir, beliau lalu pindah ke Damaskus.

Sekilas tentang kitab :

Dalam penyusunannya,imam Nasa’i menggunakan sisitematika fiqih dalam bentuk bab-bab yang menjelaskan berbagai hukum yang terkandung di dalamnya,begitu juga masalah instinbat-nya (pengambilan keputusan hukum)yang diambilnya.Oleh sebab itu kitab sunan an-Nasai menjadi kitab rujukan para praktisi Hukum Islam setelah kitab shahih bukhori dan shahih muslim,sebab kualitas hadis yang terdapat di dalamnya menempati posisi di bawah kedua kitab hadis tersebut dan di di atas kitab sunan Abu Dawud dan sunan Tirmidzi.


6.      Sunan Ibnî Mâjah, disusun oleh Imam Ibnu Majah, ( 273 H )

Sekilas tentang penulis :

Ibnu Majah : Nama Lengkap beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Abdullah bin Majah ar-Raba’i al-Qazwini. Beliau lahir di Qazwin, Irak pada tahun 209 H, dan wafat di Qazwin tahun 273 H, pada usia 64 tahun.
Beliau melakukan perjalan untuk mencari hadits ke ar-Rayy, Bashrah, Kufah, Baghdad, Syam, Mesir, dan Hijaz. Beliau banyak mengambil haidts dari penduduk kota-kota itu. Beliau memiliki beberapa karya tulis yang sangat bermanfaat.

Sekilas tentang kitab :

Beberapa cara sekaligus kronologi Imam Ibnu Majah menyusun hadits-hadits :
1. Beliau memulai dengan mengumpulkan hadits-hadits dan menyusunnya menurut kitab atau bab-bab yang berkenaan dengan masalah fiqh.
2. Tidak terlalu memfokuskan ta'liqul Al-Hadits yang terdapat pada kitab-kitab feqh tersebut. Akan tetapi beliau hanya mengkritik hadits-hadits yang menurut pandangan
beliau adalah penting.
3. Tidak menyebutkan pendapat para ulama faqih setelah penulisan hadits. Hal ini yang membedakan antara hadits Imam Ibnu Majah dengan imam yang lain, karena kebanyakan para penulis kitab-kitab feqh yang lain, setelah mereka menulis hadits, mereka akan memasukkan pendapat para ulama faqih.
4. Tidak adanya pengulangan hadits berulang kali kecuali hanya sebagian kecil saja sekiranya dirasakan penting menurut beliau.

kitab Sunan Ibnu Majah itu berisi 4.341 yang terangkum dalam 37 bab ( kitab ) hal itu sesuai dengan penjelasan yang disampaikan oleh M.Fu’ad ‘Abdul Baqi’ dalam kitabnya. Beberapa Ciri utama yang sangat populer di kalangan ulama’ dalam menanggapi kitab sunan Ibnu Majah itu. Bahkan dalam suatu Literatur karangan M.M Azami Ph.D halaman 181 dikatakan bahwa kitab Sunan Ibnu majah adalah kitab hadits yang susunan dan penataan bab dan sub bab nya oaling baik diantara kitab-kitab yabg lain. Bahkan menurut beliau juga banyak sekali Ulama’ yang mengakui hal itu.


7.      Musnad Ahmad, disusun oleh Imam Ahmad, ( 241 H ).

Sekilas tentang penulis :

Ahmad bin Hanbal : Nama asli beliau adalah Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal asy-Syaibani al-Marwazi al-Baghdadi. Beliau lahir di Merv pada tahun 164 H kemudian dibawa ke Baghdad ketika beliau masih menyusu. Ada pula yang berpendapat bahwa beliau dilahirkan di Baghdad. Beliau wafat pada tahun 241 H di Baghdad, pada usia 77 tahun.
Beliau banyak melakukan perjalan ke beberapa negri untuk menacri hadits, beliau mendengar hadits dari bebrapa syaikh terkemuka di Irak, Hijaz, syam, dan Yaman. Beliau banyak melakukan hal yang bermanfaat dalambidang hadits dan fikih, sehingga beliau dianggap oleh para ahli hadits sebagai imam dan ahli fikih. Para ulama baik yang hidup sezamannya ataupun sesudahnya, banyak yang memujinya.

Sekilas tentang kitab :

Karakteristik sebuah karya sangat dipengaruhi oleh kondisi zaman. Memotret karakteristik sebuah kitab hadis, perlu menjelaskan latar kesejarahan saat tokoh tersebut hidup. Sebagaimana sejarah kodifikasi hadis, pada abad ke-3 H ditandai dengan masa penyaringan dan pemisahan antara sabda Nabi SAW dengan fatwa sahabat dan tabi’in. Masa penyeleksian ini terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, yang dipimpin oleh khalifah Al-Ma’mun hingga Al-Muktadir (sekitar tahun 201-300 H). Berbeda pada masa tadwin (abad ke-2 H), belum adanya pemisahan antara hadis marfu’, mawquf, dan maqthu’, hadis yang dha’if dari yang sahih ataupun mawdhu’ masih tercampur dengan yang shahih. Sehingga pada masa ini (abad ke-3 H) sudah mulai dibuat kaidah-kaidah dan syarat-syarat untuk menentukan suatu kualitas hadis.
Secara umum, Metode yang digunakan dalam proses penelitian ini adalah dengan cara kritik sanad hadis, dengan meneliti kejujuran, kekuatan hafalan, dan lain sebagainya. meskipun telah dilakukan proses seleksi hadis dengan cara memisahkan antara hadis nabi, pendapat sahabat dan tabi’in, namun belum sampai kepada keterangan dan pemisahan antara yang shahih, hasan, dan dha’if. Muhadditsun, mengkodifikasi hadis-hadis ke dalam kitab-kitab dalam keadaan masih tercampur antara ketiga macam hadis tersebut. Para muhaddits pada masa ini hanya mengumpulkan hadis-hadis nabi lengkap dengan sanadnya, yang kemudian kitab-kitab hadis hasil karya mereka disebut dengan istilah Musnad. Banyak kitab-kitab Musnad yang dihasilkan pada periode ini, sebagaimana dalam “al-Risâlah al-Mutathârifah”, al-Kattany.



8.      Muwaththa` Mâlik, disusun oleh Imam Malik, ( 179 H ).

Sekilas tentang penulis :

Mallik bin Anas : Nama lengkap beliau adalah Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amr bin Harits. Nasabnya berakhir di Amr bin Harits yang memiliki darah al-Himyari keturunan Raja Yaman. Beliau lahir di Madinah pada bulan Rabiul Awwal tahun 93 H, dan beliau wafat di Madinah bulan Rabiul Awwal tahun 179 H. Beliau sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan Anas bin Malik al-Khazrazi.
Beliau mengambil hadits dari Nafi`, Sa’id al-Maqburi, az-Zuhri, Ibnu al-Munkandir, Yahya bin Sa’id al-Qathan, Ayyub as-Sikhtiyani, Abu az-Zinad dan Rabi’ah. Haditsnya diriwayatkan oleh beberapa syaikhnya yaitu : az-Zuhri, Rabi’ah, Yahya bin Sa’id, dan lain-lain; dari kalangan rekannya : al-Auza’i, ats-Tsauri, dan al-Laits. Beberapa ulama yang mengambil hadits darinya adalah : Ibnu al-Mubarak, Muhammad bin al-Hasan, asy-Syafi’i, Abdurrahman bin Mahdi, al-Qa’nabi, dan Khlaiq.

Sekilkas tentang kitab :

Kitab al-Muwatha’ menghimpun hadits-hadts Nabi, baik yang bersambung sanadnya maupun yang tidak bersambuang sanadnya, Qaul sahabat, qaul tabi’in, ijma’ ahlul-Madinah dan pendapat Imam Malik sendiri. Salah satu contoh hadits yang tidak bersambung sanadnya adalah hadits yang berbunyi;
عن عطاء بن يسار أنه قال جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فسأله عن وقت صلاة الصبح. قال : فسكت رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى إذا كان من الغد صلى الصبح حين طلع الفجر ثم صلى الصبح من الغد حين أسفر ثم قال "أين السائل عن وقت الصلاة؟" ها أناذا يارسول الله, فقال "ما بين هذين وقت"
     Sedangkan contoh hadits yang termasuk Qaul sahabat adalah;
و حدثني عن مالك عن زيد بن اسلم أن عمر بن الخطاب قال : إذا نام أحدكم مضطجعا فليتوضأ.
     Sementara contoh hadits yang termasuk Qaul tabi’in adalah;
وحدثني عن مالك أنه بلغه أن عاملا لعمر بن عبد العزيز كتب إليه يذكر أن رجلا منع زكاة ماله, فكتب إليه أن دعه ولا تأخذ منه زكاة مع المسلمين, قال فبلغ ذلك الرجل فاشتد عليه وأدى بعد ذالك زكاة ماله, فكتب عامل عمر إليه يذكر له ذلك فكتب إليه عمر أن خذها منه.
Para ulama’ berbeda pendapat tentang jumlah hadits yang terdapat dalam Al-Muwattha’:
1.  Ibnu Habbab yang dikutip Abu bakar Al-A’rabi dalam syarah Al-Tirmidzi menyatakan ada 500 hadits yang disaring dari 100.000 hadits.
2.  Abu Bakar Al-Abhari berpendapat ada 1726 hadits dengan perincian 600 musnad, 222 mursal, 613 mauquf dan 285 qaul tabi’in.
3.  Al-Harasi dalam “ Ta’liqah fi Al-Ushul” mengatakan kitab Malik memuat 700 hadits dari 9000 hadits yang telah disaring.
4.  Abu Al-Hasan Bin Fahr dalam “fada’il” mengatakan ada 10.000 hadits dalam kitab Al-Muwatta’
5.  Arnold John Wensinck menyatakan dalam Al-Muwatta’ ada 1612 hadits.
6.  Muhammad Fuad Abdul Al-baqi mengatakan Al-Muwatta’ berisi 1824 hadits.
7.  Ibnu Hazm berpendapat dengan tanpa menyebutkan jumlah persisnya. 500 lebih hadits musnad, 300 lebih hadits mursal,70 hadits lebih yang tidak diamalkan Imam Malik dan beberapa hadits dhaif.
8.  Muhmmad Syuhudi Ismail menyatakan kitab Al-Muwatta’ 1804 hadits.


9.      Sunan ad-Dârimî, disusun oleh Imam ad-Darimi, ( 255 H ).

Sekilas tentang penulis :

Ad-Darimi : Nama lengkap beliau adalah Abu Muhammmad Abdullah bin Abdurrahman bin Fadhl bin Bahram at-Tamimi ad-Darimi as-Samarkandi. Beliau lahir di Samarqan pada tahun 181 H, dan beliau wafat di Samarqand pada tahun 255 H.
Beliau melakukan perjalanan untuk mencari hadits ke Hijaz, Syam, Mesir, Irak, dan Khurasan. Dalam karyanya beliau memadukan antara tafsir dan fikih. Beliau menyusun sebuah musnad yang mengumpulkan hadits-hadits shahih, yang kemudian lebih dikenal denga sebutan “Sunan ad-Dârimî”.

Sekilas tentang kitab :

kitab ini di mulai dengan muqaddimah yang berisi bab-bab pengantar seperti:
– kondisi manusia sebelum islam
– tentang sifat, mu’jizat Nabi
– tentang fatwa
– tentang ilmu dan orang berilmu
– Didalamnya terdapat 654 hadits, dan yang lainnya.
kemudian di sambung dengan kitab Taharah, kitab Shalat dan di akhiri dengan kitab Fadhail al-Qur’an. Jumlah kitab dalam Sunan Darimi seluruhnya berjumlah 23 kitab, dan dalam setiap kitab terdapat bab, di dalam bab-bab inilah beliau menyebutkan hadits-hadits yang sesuai dengan judul bab yang di maksud.

jumlah hadit-hadits dan kedudukannya:

– dari hitungan Dr. Mushthafa Diib al-Bugha: “terdapat sebanyak 3375 hadits dalam sunan darimi termasuk hadits-hadits yang termaktub dalam muqaddimah”.
– sejauh ini, saya belum mengetahui sebuah study dan penelitian yang detail dan mendalam tentang persentase kekuatan/kedudukan hadits-hadits Sunan ad- Darimi.
Barangkali, dari contoh-contoh riwayat beliau yang di nukil sebagian oleh adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar ‘Ilam Nubala,[23] dapat disimpulkan, bahwa sebagian hadits beliau ada yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, artinya riwayatnya termasuk kategori shahih. Dan ada yang masuk dalam kategori Gharibul Isnad. Seperti halnya karakter dari kitab sunan yang menekankan kepada hadits-hadits hukum, maka kemungkinan adanya hadits-hadits yang tidak shahih adalah wajar. Karena para penulis (mukharrij sunan) tidak mensyaratkan hal itu (hanya meriwayatkan yang shahih saja). 
Wallahu ‘alam.













                                                   Sumber-sumber
Sami bin Abdullah al-Maghluts. Atlas Agama Islam, 2009 Jakarta timur : Al-Mahira.      
Dzulmani, Mengenal Kitab-Kitab Hadits (Yogyakarta: Insan Madani, 2008), h. 47.
Imam Abu Abdullah Muhammad Bin Ismail Bin Ibrahim al-Bukhori, Shohih Bukhori, Juz. 1,2,3,4.
Khumaidi, Irham, 2008. Ilmu Hadis untuk Pemula. Jakarta Barat: CV Artha Rivera.
Rahman, Fathur. cet ke-1. 1974. Ikhtisar musthplah Hadis. Bandung: PT Al- Ma'arif .
Soleh, Komaruddin. 2009. Mangenal Sahih Muslim. Diambil pada tanggal 02 Januari 2009. (http://members.tripod.com/fitrah_online/thema/des98/1298).
Dr. Badri Khaeruman, M.Ag. Ulum Al-Hadis . Bandung. 2010. H. 263.
M. Abdurrahman, Studi Kitab Hadits, hal 108,112,115.
Muhammad Alawi al-Maliki, Ilmu Ushul Hadis, terj. Adnan Qohar (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009) hal 281.
M. Abdurrahman, Setudi Kitab Hadits, hal 121.
Muhammad bin Alwi al-Malaiki al Hasani,al-Qawaid al-Asasiyah  fi ‘ilm musthalah al-Hadist,(Jakarta,Syirkah Dinamika Berkah Utama,1397),hal :77.
M.M. Azami Ma. Ph.D . Memahami Ilmu Hadits. 2003. Lentera Jakarta.
Dardum,abdullah, Ikhtisor ulumul hadits,jember,Nuris;2013.h 25.

Abu Zahwu dalam Nawir Yuslem, Sembilan Kitab Induk Hadis, h.42.
Malik bin Anas bin Malik bin ‘Amir Al-Ashbahi Al-Madani, Al-Muwattha’, Hadits no. 11.

 Malik bin Anas bin Malik bin ‘Amir Al-Ashbahi Al-Madani, Op.cit, Hadits no. 36, 673.

Dosen Tafsir Hadits fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga YogyakataOp.cit, hlm. 9-10.

Share on Google Plus

About Ahsanul Qurun

0 komentar:

Post a Comment