Oleh : Ilma Insani Al-Fudhel
1.
Shahîh al-Bukhâri, disusun oleh Imam al-Bukhari, (
256 H ).
Sekilas tentang
penulis :
Al-Bukhari :
Nama lengkap beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin
al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi, yang berasal dari Persia.
Beliau lahir di
Bukhara tahun 194 H dan belau wafat di Khartank, sebuah daerah yang berjarak
sekitar dua farsakh dari Samarkandi, pada malam Idul Fitri tahun 256 H.
Beliau memulai
perjalanannya untuk mencari hadits pada tahun 210 H, dan kemudian terus berpindah-pindah
untuk mencari hadits. Sempat menetap di Hijaz selama enam tahun. Pernah singgah
di Syam, Mesir, al-Jazirah, Bashrah, Kufah, dan Baghdad. Beliau memiliki daya
hafal yang sangat kuat.
Sekilas tentang
kitab :
Metode dan sistematika penulisannya adalah :
1. Mengulangi
Hadis jika diperlukan dan memasukkan ayat-ayat Al-Quran.
2. Memasukkan fatwa sahabat
dan tabi’in sebagai penjelas terhadap Hadis yang ia kemukakan.
3. Menta’liqkan (menghilangkan
sanad) pada Hadis yang diulang karena pada tempat lain sudah ada sanadnya yang
bersambung.
4. Menerapkan
prinsip-prinsip al-jarḥ wa at-ta’dīl.
5. Mempergunakan
berbagai sigat tahammul.
6. Disusun
berdasar tertib fiqih.
Adapun teknik penulisan yang
digunakan adalah:
1. Memulainya dengan
menerangkan wahyu, karena ia adalah dasar segala syari’at.
2. Kitabnya tersusun dari
berbagai tema.
3. Setiap tema berisi
topik-topik.
4. Pengulangan hadits
disesuaikan dengan topik yang dikehendaki tatkala mengistinbatkan hukum.
Jumlah judul (kitab) yang
terdapat di dalamnya adalah 97 kitab. Setiap kitab dibagi menjadi beberapa sub
judul yang dikenal dengan istilah “bab”. Jumlah total babnya adalah 3936 bab,
yang dimulai dengan kitab bad’u al-waḥy, dan disusul dengan kitāb
al-Imān, kitāb al-‘Ilm, kitāb al-Wadu’, dan sterunya.
2.
Shahîh Muslim, disusun oleh Imam Muslim, ( 261 H
).
Sekilas tentang
penulis :
Muslim : Nama
lengkap beliau adalaj Abu al-Husain bin Muslim al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi
an-Naisaburi.Beliau lahir di Naisabur pada tahun 204 H dan beliau wafat di
Naisabur pada tahun 261 H, pada usia 57 tahun.
Imam Muslim
selalu berpindah dari kota ke kota untuk mencari hadits. Beliau pernah singgah
di Hijaz, Syam, Irak, dan Mesir. Ketika Imam al-Bukhari singgah di Naisabur
beliau menimba ilmu darinya. Imam Muslim banyak dipuji oleh para ulama dari
kalangan ahli hadits dan yang lainnya.
Sekilas tentang
kitab :
Metode yang
ditempuh oleh Imam Muslim dalam menyusun kitabnya Al-Jami' As-Sahih sangat
bagus sekali. Beliau menempatkan hadis-hadis yang memiliki kesamaan tema di
tempat yang sama, dan tidak menempatkannya secara terpisah atau di tempat yang
berbeda. Sehingga kitab Al-Jami' As-Sahih karyanya memliliki nilai sistematika
ynag tinggi. Karena memang Imam Muslim tidak memiliki tujuan untuk mengaitkan
dengan masalah fikih sebagaimana Imam Bukhori. Oleh karena itu tidak ada hadis
yang sama di letakkan pada dua tema yang berbeda. Selain itu apabila ada
seorang rawi berbeda dengan seorang rawi lainnya dalam menggunakan redaksi,
padahal subtansi dan tujuannya sama,maka Imam Muslim menjelaskannya. Begitu
pula apabila seorang rawi menggunakan lafad ا خبرنا ( ia mengabarkan
kepada kami ), sedang rawi yang lain menggunakan lafad حدثنا ( ia menceritakan
kepada kami ), maka beliaupun menjelaskan perbedaan tersebut.
Kitab Al-Jami'
As-sahih yang disusun oleh Imam Muslim diawali oleh mukaddimah yang bernilai
tinggi dan bermanfaat. Dalam mukaddimahnya beliau menjelskan haramnya berdusta
atas nama Rasulullah, Anjuran agar berhati-hati dalam meriwayatkan, keadaan
para perawi dan menerangkan illat hadis, larangan meriwayatkan hadis dari
perawi yang lemah dan banyak salahnya, pembagian dan macam-macam hadis, dan
hadis-hadis yang ditulis dalam sahihnya. Juga menerangkan bahwa sanad hadis itu
adalah bagian dari ketentuan agama, dan menjelaskan panjang lebar tentang
berhujjah dengan hadis mu'an'an. Itulah di antara manfaat yang terkandung
dalam mukaddimah sahih Muslim.
3. Sunan Abî Dâwud, disusun oleh Imam Abu Dawud, ( 275
H ).
Sekilas tentang
penulis :
Abu Dawud :
Nama lengkap beliau adalah Sulaiman bin al-Asy’ats bin Ishaq al-Adzi
as-Sijistani. Beliau lahir di Sijistan pada tahun 204 H dan beliau wafat di
Bashrah pada tahun 275 H, pada usia 73 tahun.
Imam Abu Dawud
banyak melakukan perjalanan untuk mencari hadits dan banyak menulis hadits dari
penduduk Irak, Syam, Mesir, dan Khurasan. Beliau juga mengambil hadits dari
Imam Ahmad bin Hanbal dan beberapa ulama yang lain dari kalangan guru Imam
al-Bukhari dan Imam Muslim. Para ulama banyak memujinya dan mengatakan bahwa
beliau memiliki hafalan yang sempurna, pemahaman yang teguh, dan memiliki sifat
wara’. Imam Abu Dawud telah banyak mewariskan banyak pengetahuan melalui karya-karyanya.
Sekilas tentang
kitab :
Dalam
menulis kitab Sunan-nya, Abu Dawud menggunakan sistem penulisan
secara mushanaf, yaitu berdasarkan tertib dan rumusan bab-bab fiqh.
Dalam kitab ini, Abu Dawud hanya memasukkan hadis-hadis yang materinya
berkenaan dengan hukum.
Jumalah hadits yang tercaantum dalam kitab ini adalah 4.800.
adapun jika dihitung dengan jumlah hadits yang diulang-ulang maka jumlahnya
adalah 5.274 hadits, dengan pembagian keseluruhannya memuat 45 kitab, yang
tersusun dari 1.872 bab.
4.
Sunan at-Tirmidzî, disusun oleh Imam at-Tirmidzi, (
279 H ).
Sekilas tentang
penulis :
At-Tirmidzi :
Nama lengkap beliau adalah Abu Isa Muhammad bin Surah as-Sulaimi at-Tirmidzi.
Beliau lahir di Termiz, sebuah kota di pinggiran Jaihun, pada tahun 209 H. Dan
beliau wafat di Termiz pada tahun 279 H, pada usia 70 tahun.
Imam
at-Tirmidzi berkeliling ke banyak tempat. Beliau mendengar hadits dari penduduk
Hijaz, Irak, dan Khurasan. Para ulama mengakui keunggulan dan kelebihannya,
sampai-sampai Imam al-Bukhari sering mengambil hadits darinya, walau pun
sebenarnya beliau adalah gurunya Imam at-Tirmidzi.
Sekilas tentang
kitab :
Metode
penulisan kitab ini adalah judul lengkap
kitab al–Jami’al–Shahih adalah al-Jami’al–Mukhtasharminal–Sunan‘anRasulillah
Shallallahu ‘alahi wa Sallam wa Ma’rifat al-Shahih wa al-Ma’lul wa Ma’ ‘alaihi
al-‘Amal. Meski demikian kitab ini lebih popular dengan
nama al–Jami’al–Tirmidzi atau Sunanal–Tirmidzi.Untuk kedua
penamaan ini tampaknya tidak dipermasalahkan oleh ulama. Adapun yang menjadi
pokok perselisihan adalah ketika kata-kata shahih melekat dengan nama
kitab. Al-Hakim (w. 405 H) dan al-Khatib al-Baghdadi (w. 483 H) tidak keberatan
menyebut dengan Shahihal–Tirmidzi atau al–Jami’al–Shahih.Berbeda
dengan Ibn Katsir (w. 774 H) yang menyatakan pemberian nama itu tidak tepat dan
terlalu gegabah, sebab di dalam kitab al–Jami’al–Tirmidzi tidak hanya
memuat hadis shahih saja, akan tetapi memuat pula
hadis-hadis hasan, dha’if dan munkar, meskipun al-Tirmidzi
selalu menerangkan kelemahannya, ke-mu’alal-annya dengan ke-munkar-annya.
Secara rinci sistematika
kitab al-Jami’al-Shahihakan dijelaskan sebagai berikut:
Juz I terdiri dari 2 kitab,
tentang Thaharah dan Shalat yang meliputi 184 bab 237
hadis.
Juz II terdiri dari
kitab Witir, Jumu’ah, Idayn dan Safar, meliputi260 bab
dan 355 hadis.
Juz III terdiri dari
kitab Zakat, Shiyam, Haji, Janazah, Nikah, Rada’, Thalaqdan Li’an, Buyu’ dan al-Ahkam,
meliputi 516 bab dan 781 hadis.
Juz IV terdiri dari
kitab Diyat, Hudud, Sa’id, Dzaba’ih, Ahkam dan Sa’id,Dahi, Siyar, FadhilahJihad, Libas, Ath’imah, Asyribah, BirrwaShilah, al-Thibb, Fara’id, Washaya, Wali dan Hibbah, Fitan, al-Ra’yu, Syahadah,Zuhud, Qiyamah, Raqa’iq dan Wara’, Jannah dan Jahannam,
meliputi 734 bab dan 997 hadis.
Juz V terdiri dari 10 pembahasan,
tentang Iman, ‘Ilm, Isti’dzan, Adab, al-Nisa’, Fadha’ilal-Qur’an, Qira’ah, Tafsiral-Qur’an, Da’awat, Manaqib,
yang meliputi 474 bab dan 773 hadis, di tambah tentang pembahasan ‘Ilal.
5.
Sunan an-Nasâ`î, disusun oleh Imam an-Nasa`i, ( 303
H ).
Sekilas tentang
penulis :
An-Nasa`i :
Nama lengkap beliau adalah Abu Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib bin Ali an-Nasa`i,
atau “an-Nasawi” dinisbatkan kepada nama kota “Nasa”, sebuah daerah terkenal di
Khurasan. Beliau lahir di Nasa pada tahun 215 H, dan beliau wafat di Ramalah,
Palestina pada tahun 303 H, pada usia 88 tahun.
Beliau banyak
melakukan perjalanan untuk mencari hadits. Beliau mendengar haidts dari
penduduk Syam, Khurasan, al-Jazirah dan yang lainnya. Dan pernah menetap selama
beberapa tahun di Mesir, beliau lalu pindah ke Damaskus.
Sekilas tentang
kitab :
Dalam penyusunannya,imam Nasa’i
menggunakan sisitematika fiqih dalam bentuk bab-bab yang menjelaskan berbagai
hukum yang terkandung di dalamnya,begitu juga masalah instinbat-nya
(pengambilan keputusan hukum)yang diambilnya.Oleh sebab itu kitab sunan
an-Nasai menjadi kitab rujukan para praktisi Hukum Islam setelah kitab shahih
bukhori dan shahih muslim,sebab kualitas hadis yang terdapat di dalamnya
menempati posisi di bawah kedua kitab hadis tersebut dan di di atas kitab sunan
Abu Dawud dan sunan Tirmidzi.
6.
Sunan Ibnî Mâjah, disusun oleh Imam Ibnu Majah, (
273 H )
Sekilas tentang
penulis :
Ibnu Majah :
Nama Lengkap beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Abdullah bin
Majah ar-Raba’i al-Qazwini. Beliau lahir di Qazwin, Irak pada tahun 209 H, dan
wafat di Qazwin tahun 273 H, pada usia 64 tahun.
Beliau
melakukan perjalan untuk mencari hadits ke ar-Rayy, Bashrah, Kufah, Baghdad,
Syam, Mesir, dan Hijaz. Beliau banyak mengambil haidts dari penduduk kota-kota
itu. Beliau memiliki beberapa karya tulis yang sangat bermanfaat.
Sekilas tentang
kitab :
Beberapa cara
sekaligus kronologi Imam Ibnu Majah menyusun hadits-hadits :
1. Beliau memulai dengan mengumpulkan hadits-hadits dan menyusunnya menurut kitab atau bab-bab yang berkenaan dengan masalah fiqh.
2. Tidak terlalu memfokuskan ta'liqul Al-Hadits yang terdapat pada kitab-kitab feqh tersebut. Akan tetapi beliau hanya mengkritik hadits-hadits yang menurut pandangan beliau adalah penting.
3. Tidak menyebutkan pendapat para ulama faqih setelah penulisan hadits. Hal ini yang membedakan antara hadits Imam Ibnu Majah dengan imam yang lain, karena kebanyakan para penulis kitab-kitab feqh yang lain, setelah mereka menulis hadits, mereka akan memasukkan pendapat para ulama faqih.
4. Tidak adanya pengulangan hadits berulang kali kecuali hanya sebagian kecil saja sekiranya dirasakan penting menurut beliau.
1. Beliau memulai dengan mengumpulkan hadits-hadits dan menyusunnya menurut kitab atau bab-bab yang berkenaan dengan masalah fiqh.
2. Tidak terlalu memfokuskan ta'liqul Al-Hadits yang terdapat pada kitab-kitab feqh tersebut. Akan tetapi beliau hanya mengkritik hadits-hadits yang menurut pandangan beliau adalah penting.
3. Tidak menyebutkan pendapat para ulama faqih setelah penulisan hadits. Hal ini yang membedakan antara hadits Imam Ibnu Majah dengan imam yang lain, karena kebanyakan para penulis kitab-kitab feqh yang lain, setelah mereka menulis hadits, mereka akan memasukkan pendapat para ulama faqih.
4. Tidak adanya pengulangan hadits berulang kali kecuali hanya sebagian kecil saja sekiranya dirasakan penting menurut beliau.
kitab Sunan
Ibnu Majah itu berisi 4.341 yang terangkum dalam 37 bab ( kitab ) hal itu
sesuai dengan penjelasan yang disampaikan oleh M.Fu’ad ‘Abdul Baqi’ dalam
kitabnya. Beberapa Ciri utama yang sangat populer di kalangan ulama’ dalam
menanggapi kitab sunan Ibnu Majah itu. Bahkan dalam suatu Literatur karangan
M.M Azami Ph.D halaman 181 dikatakan bahwa kitab Sunan Ibnu majah adalah kitab
hadits yang susunan dan penataan bab dan sub bab nya oaling baik diantara
kitab-kitab yabg lain. Bahkan menurut beliau juga banyak sekali Ulama’ yang
mengakui hal itu.
7.
Musnad Ahmad, disusun oleh Imam Ahmad, ( 241 H
).
Sekilas tentang
penulis :
Ahmad bin
Hanbal : Nama asli beliau adalah Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal
asy-Syaibani al-Marwazi al-Baghdadi. Beliau lahir di Merv pada tahun 164 H
kemudian dibawa ke Baghdad ketika beliau masih menyusu. Ada pula yang
berpendapat bahwa beliau dilahirkan di Baghdad. Beliau wafat pada tahun 241 H
di Baghdad, pada usia 77 tahun.
Beliau banyak
melakukan perjalan ke beberapa negri untuk menacri hadits, beliau mendengar
hadits dari bebrapa syaikh terkemuka di Irak, Hijaz, syam, dan Yaman. Beliau
banyak melakukan hal yang bermanfaat dalambidang hadits dan fikih, sehingga
beliau dianggap oleh para ahli hadits sebagai imam dan ahli fikih. Para ulama
baik yang hidup sezamannya ataupun sesudahnya, banyak yang memujinya.
Sekilas tentang
kitab :
Karakteristik sebuah karya sangat dipengaruhi
oleh kondisi zaman. Memotret karakteristik sebuah kitab hadis, perlu
menjelaskan latar kesejarahan saat tokoh tersebut hidup. Sebagaimana sejarah
kodifikasi hadis, pada abad ke-3 H ditandai dengan masa penyaringan dan
pemisahan antara sabda Nabi SAW dengan fatwa sahabat dan tabi’in. Masa
penyeleksian ini terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, yang dipimpin
oleh khalifah Al-Ma’mun hingga Al-Muktadir (sekitar tahun 201-300 H). Berbeda pada
masa tadwin (abad ke-2 H), belum adanya pemisahan antara hadis marfu’, mawquf,
dan maqthu’, hadis yang dha’if dari yang sahih ataupun mawdhu’ masih tercampur
dengan yang shahih. Sehingga pada masa ini (abad ke-3 H) sudah mulai dibuat
kaidah-kaidah dan syarat-syarat untuk menentukan suatu kualitas hadis.
Secara umum, Metode yang digunakan dalam
proses penelitian ini adalah dengan cara kritik sanad hadis, dengan meneliti
kejujuran, kekuatan hafalan, dan lain sebagainya. meskipun telah dilakukan
proses seleksi hadis dengan cara memisahkan antara hadis nabi, pendapat sahabat
dan tabi’in, namun belum sampai kepada keterangan dan pemisahan antara yang
shahih, hasan, dan dha’if. Muhadditsun, mengkodifikasi hadis-hadis ke dalam
kitab-kitab dalam keadaan masih tercampur antara ketiga macam hadis tersebut.
Para muhaddits pada masa ini hanya mengumpulkan hadis-hadis nabi lengkap dengan
sanadnya, yang kemudian kitab-kitab hadis hasil karya mereka disebut dengan
istilah Musnad. Banyak kitab-kitab Musnad yang dihasilkan pada periode ini,
sebagaimana dalam “al-Risâlah al-Mutathârifah”, al-Kattany.
8.
Muwaththa` Mâlik, disusun oleh Imam Malik, ( 179 H
).
Sekilas tentang
penulis :
Mallik bin Anas
: Nama lengkap beliau adalah Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir
bin Amr bin Harits. Nasabnya berakhir di Amr bin Harits yang memiliki darah
al-Himyari keturunan Raja Yaman. Beliau lahir di Madinah pada bulan Rabiul
Awwal tahun 93 H, dan beliau wafat di Madinah bulan Rabiul Awwal tahun 179 H.
Beliau sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan Anas bin Malik
al-Khazrazi.
Beliau
mengambil hadits dari Nafi`, Sa’id al-Maqburi, az-Zuhri, Ibnu al-Munkandir,
Yahya bin Sa’id al-Qathan, Ayyub as-Sikhtiyani, Abu az-Zinad dan Rabi’ah.
Haditsnya diriwayatkan oleh beberapa syaikhnya yaitu : az-Zuhri, Rabi’ah, Yahya
bin Sa’id, dan lain-lain; dari kalangan rekannya : al-Auza’i, ats-Tsauri, dan
al-Laits. Beberapa ulama yang mengambil hadits darinya adalah : Ibnu
al-Mubarak, Muhammad bin al-Hasan, asy-Syafi’i, Abdurrahman bin Mahdi,
al-Qa’nabi, dan Khlaiq.
Sekilkas
tentang kitab :
Kitab al-Muwatha’ menghimpun hadits-hadts Nabi,
baik yang bersambung sanadnya maupun yang tidak bersambuang sanadnya, Qaul
sahabat, qaul tabi’in, ijma’ ahlul-Madinah dan pendapat Imam Malik sendiri. Salah satu contoh hadits yang tidak bersambung sanadnya adalah hadits
yang berbunyi;
عن عطاء بن يسار أنه قال جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فسأله
عن وقت صلاة الصبح. قال : فسكت رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى إذا كان من الغد
صلى الصبح حين طلع الفجر ثم صلى الصبح من الغد حين أسفر ثم قال "أين السائل
عن وقت الصلاة؟" ها أناذا يارسول الله, فقال "ما بين هذين وقت"
Sedangkan contoh hadits yang termasuk Qaul
sahabat adalah;
و حدثني عن مالك عن زيد بن اسلم أن عمر بن الخطاب قال : إذا نام أحدكم
مضطجعا فليتوضأ.
Sementara contoh hadits yang termasuk Qaul
tabi’in adalah;
وحدثني عن مالك أنه بلغه أن عاملا لعمر بن عبد العزيز كتب إليه يذكر أن
رجلا منع زكاة ماله, فكتب إليه أن دعه ولا تأخذ منه زكاة مع المسلمين, قال فبلغ
ذلك الرجل فاشتد عليه وأدى بعد ذالك زكاة ماله, فكتب عامل عمر إليه يذكر له ذلك
فكتب إليه عمر أن خذها منه.
Para ulama’ berbeda pendapat tentang jumlah hadits yang terdapat dalam
Al-Muwattha’:
1. Ibnu Habbab yang
dikutip Abu bakar Al-A’rabi dalam syarah Al-Tirmidzi menyatakan ada 500 hadits
yang disaring dari 100.000 hadits.
2. Abu Bakar
Al-Abhari berpendapat ada 1726 hadits dengan perincian 600 musnad, 222 mursal,
613 mauquf dan 285 qaul tabi’in.
3. Al-Harasi
dalam “ Ta’liqah fi Al-Ushul” mengatakan kitab Malik memuat 700 hadits dari
9000 hadits yang telah disaring.
4. Abu Al-Hasan
Bin Fahr dalam “fada’il” mengatakan ada 10.000 hadits dalam kitab Al-Muwatta’
5. Arnold John
Wensinck menyatakan dalam Al-Muwatta’ ada 1612 hadits.
6. Muhammad Fuad
Abdul Al-baqi mengatakan Al-Muwatta’ berisi 1824 hadits.
7. Ibnu Hazm
berpendapat dengan tanpa menyebutkan jumlah persisnya. 500 lebih hadits musnad,
300 lebih hadits mursal,70 hadits lebih yang tidak diamalkan Imam Malik dan
beberapa hadits dhaif.
8. Muhmmad
Syuhudi Ismail menyatakan kitab Al-Muwatta’ 1804 hadits.
9.
Sunan ad-Dârimî, disusun oleh Imam ad-Darimi, ( 255
H ).
Sekilas tentang
penulis :
Ad-Darimi :
Nama lengkap beliau adalah Abu Muhammmad Abdullah bin Abdurrahman bin Fadhl bin
Bahram at-Tamimi ad-Darimi as-Samarkandi. Beliau lahir di Samarqan pada tahun
181 H, dan beliau wafat di Samarqand pada tahun 255 H.
Beliau
melakukan perjalanan untuk mencari hadits ke Hijaz, Syam, Mesir, Irak, dan
Khurasan. Dalam karyanya beliau memadukan antara tafsir dan fikih. Beliau
menyusun sebuah musnad yang mengumpulkan hadits-hadits shahih, yang
kemudian lebih dikenal denga sebutan “Sunan ad-Dârimî”.
Sekilas tentang
kitab :
kitab ini di mulai dengan muqaddimah yang berisi
bab-bab pengantar seperti:
– kondisi manusia sebelum islam
– tentang sifat, mu’jizat Nabi
– tentang fatwa
– tentang ilmu dan orang berilmu
– Didalamnya terdapat 654 hadits, dan yang lainnya.
kemudian di sambung dengan kitab Taharah, kitab
Shalat dan di akhiri dengan kitab Fadhail al-Qur’an. Jumlah kitab dalam Sunan
Darimi seluruhnya berjumlah 23 kitab, dan dalam setiap kitab terdapat bab, di
dalam bab-bab inilah beliau menyebutkan hadits-hadits yang sesuai dengan judul
bab yang di maksud.
jumlah hadit-hadits dan kedudukannya:
– dari hitungan Dr. Mushthafa Diib al-Bugha:
“terdapat sebanyak 3375 hadits dalam sunan darimi termasuk hadits-hadits yang
termaktub dalam muqaddimah”.
– sejauh ini, saya belum mengetahui sebuah study
dan penelitian yang detail dan mendalam tentang persentase kekuatan/kedudukan
hadits-hadits Sunan ad- Darimi.
Barangkali, dari contoh-contoh riwayat beliau yang di nukil sebagian
oleh adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar ‘Ilam Nubala,[23] dapat
disimpulkan, bahwa sebagian hadits beliau ada yang diriwayatkan oleh Imam
Muslim, artinya riwayatnya termasuk kategori shahih. Dan ada yang masuk dalam
kategori Gharibul Isnad. Seperti halnya karakter dari kitab sunan
yang menekankan kepada hadits-hadits hukum, maka kemungkinan adanya
hadits-hadits yang tidak shahih adalah wajar. Karena para penulis (mukharrij
sunan) tidak mensyaratkan hal itu (hanya meriwayatkan yang shahih
saja).
Wallahu ‘alam.
Sumber-sumber
Sami bin
Abdullah al-Maghluts. Atlas Agama Islam, 2009 Jakarta timur : Al-Mahira.
Dzulmani, Mengenal Kitab-Kitab Hadits (Yogyakarta:
Insan Madani, 2008), h. 47.
Imam Abu Abdullah Muhammad Bin
Ismail Bin Ibrahim al-Bukhori, Shohih Bukhori, Juz. 1,2,3,4.
Khumaidi, Irham, 2008. Ilmu Hadis untuk Pemula. Jakarta
Barat: CV Artha Rivera.
Rahman, Fathur. cet ke-1. 1974. Ikhtisar musthplah
Hadis. Bandung: PT Al- Ma'arif .
Soleh, Komaruddin. 2009. Mangenal Sahih Muslim. Diambil
pada tanggal 02 Januari 2009. (http://members.tripod.com/fitrah_online/thema/des98/1298).
Dr. Badri Khaeruman, M.Ag. Ulum
Al-Hadis . Bandung. 2010. H. 263.
M. Abdurrahman, Studi Kitab Hadits, hal 108,112,115.
Muhammad Alawi al-Maliki, Ilmu
Ushul Hadis, terj. Adnan Qohar (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009) hal 281.
M. Abdurrahman, Setudi Kitab Hadits,
hal 121.
Muhammad bin Alwi al-Malaiki al
Hasani,al-Qawaid al-Asasiyah fi ‘ilm musthalah
al-Hadist,(Jakarta,Syirkah Dinamika Berkah Utama,1397),hal :77.
M.M. Azami Ma. Ph.D . Memahami Ilmu
Hadits. 2003. Lentera Jakarta.
Dardum,abdullah, Ikhtisor
ulumul hadits,jember,Nuris;2013.h 25.
Abu Zahwu dalam Nawir
Yuslem, Sembilan Kitab Induk Hadis, h.42.
Malik bin Anas bin Malik
bin ‘Amir Al-Ashbahi Al-Madani, Al-Muwattha’, Hadits no. 11.
Malik bin Anas bin Malik bin ‘Amir Al-Ashbahi Al-Madani, Op.cit, Hadits
no. 36, 673.
Dosen Tafsir Hadits
fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakata, Op.cit, hlm.
9-10.

0 komentar:
Post a Comment