Periodisasi Sejarah Fikih Islam



Oleh : Ilma Insani Al-Fudhel

Masa Penetapan Syari’at  
   
: Sejak Rasulullah diangkat menjadi Nabi dan Rasul, hingga beliau wafat pada tahun 11 H.
Masa Khulafaur Rasyidin

: Selama tiga puluh tahun; dari tahun 11 H sampai tahun 40    H.

Masa sahabat kecil dan tabi’in besar

: Selama enam puluh tahun; dari tahun 41 H sampai tahun 100 H.
Masa kodifikasi

: selama sekitar 250 tahun; dari tahun 101 H sampai tahun 350 H.
Masa taklid


: selama 306 tahun; dari tahun 350 H sampai tahun 656 H                        ( jatuhnya baghdad )
Masa stagnasi fikih
: dari tahun 656 H sampai sekarang.



Sekilas tentang Empat Madzhab Induk

1.      Madzhab Hanafi

Pendiri madzhab hanafi adalah Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit. Seorang asal
Persia yang sering dijuluki Al-Imâm al-A’zham. Beliau lahir di Kufah pada tahun 80 H dan tumbuh di Irak, dan beliau wafat di Baghdad pada tanggal 11 Jumadil Ula tahun 150 H.
            Beliau adalah tokoh yang mengukuhkan metode istihsan. Beliau banyak melakukan ijtihad, dan beliaulah yang memunculkan madzhab baru yang memberi kebebasan lebih luas bagi akal, karena beliau sering menggunakan rasio (ra`yu) dan qiyas. Akibat hal ini munculah pelbagai macam furu’ (asal) yang diambil dari perkara ushûl  (dasar), terjadi dominasi istinbath, dan pendekatan fikih dengan rasio.
            Madzhab Abu Hanifah mulai tersebar sejak Abu Yusuf mengangkat beliau menjadi seorang qadhi dalam Daulah Abbasiyah. Madzhab Abu Hanifah menjadi madzhab resmi di Daulah Abbasiyah, Daulah Salajiqah (seljuk), Daulah Gazwaniyah, dan Daulah Utsmaniyah. Saat ini, madzhab Hanafi telah tersebar di seluruh kawasan dunia Islam dan terkonsentrasi di Mesir, Syam, Irak, Pakistan, India, dan Cina.

2.      Madzhab Maliki

Pendiri madzhab Maliki adalah Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin
Abu Amir bin Amr bin Harits. Amr bin Harits adalah keturunan Raja Yaman. Beliau lahir pada bulan Rabiul Awwal tahun 93 H, dan tumbuh di Madinah, dan beliau wafat di Madinah pada bulan Rabiul Awwal tahun 179 H.
            Madzhab Maliki bersifat menengahi antara ahl ar-ra`yu dan ahl al-ẖadits. Imam Malik banyak menggunakan hadits yang riwayatnya sudah masyhur. Oleh sebagian orang, terlebih penduduk Madinah, Imam Malik dianggap ahl ar-ra`yu berkenaan dengan hukum fikihnya.
            Madzhab Imam Malik banyak tersebar di sebelah utara Afrika dan Andlusia. Tokoh yang menyebarkan madzhab Maliki ẖ kawasan ini adalah Abdullah bin Wahab, Asad bin Furat, dan beberapa ulama Mesir.

3.      Madzhab Syafi’i

Pendiri madzhab Syafi’i adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris bin Abbas
bin Utsman bin Syafi’ bin Saib bin Abdullah bin Abd bin Yazid bin Hasyim bin Muthalib bin Abdu Manaf bin Qushay bin al-Qurasyi al-Muthalibi as-Syafi’i al-Hijazi al-Makki. Nasab beliau bertemu dengan Rasulallah pada kakek buyut beliau Abdu Manaf.
            Beliau lahir kota Gaza pada tahun 150 H yang sekaligus bertepatan dengan wafatnya Abu Hanifah, beliau tumbuh di Hijaz, dan beliau wafat di Fustat, Mesir, pada tahun 204 H.
            Imam Syafi’i menjadi amat istimewa dibandingkan dengan para imam madzhab lainnya, karena beliau menulis sendiri kitab-kitabnya. Beliau juga amat diperhitungkan oleh sebagian besar ulama. Beliau adalah ulama yang pertama kali menulis ilmu Ushul Fikih lengkap dengan penjelasannya. Beliau lebih banyak menggunakan kaidah-kaidah umum daripada cabang-cabang fikih.
            Pada saat ini, madzhab Syafi’i terkonsentrasi dan banyak tersebar di Mesir, Syam Selatan, Yaman, Afrika Timur, Kurdistan, dan wilayah Asia tenggara (Indonesia dan Malaysia).

4.      Madzhab Hanbali

Pendiri madzhab Hanbali adalah Ahmad bin Hanbal bin Hilal adz-Dzahli
asy-Syaibani al-Marwazi. Beliau lahir di Baghdad pada tahun 164 H, kemudian beliau tumbuh di Baghdad pula, dan beliau wafat di Baghdad pada tahun 241 H.
            Madzhab ini adalah madzhab sunni yang paling banyak menggunakan nash dan meninggalkan rasionalitas. Oleh sebab itu, madzhab ini hanya mengakui al-Qur`an Sunnah, penjelasan (bayyinah), dan ijma’ sahabat, tanpa mengakui qiyas kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu.
            Madzhab Hanbali banyak tersebar di pinggiran kota Baghdad dan beberapa wilayah Syam. Para qadhi dari kalangan madzhab Hanbali juga telah mencapai Mesir, tapi madzhab ini tidak menyebar ke tempat selain tiga tempat tadi sampai masa modern. Pengikut madzhab Hanbali amat sedikit dan tersebar di beberapa tempat, hingga akhirnya pemerintah Arab Saudi mengakuinya secara resmi.


Sumber : Al-Madkhal al-Fiqh al-Islami wa Ushulihi, Yusuf Ahmad Muhammad al-Badawy.
              Atlas Agama Islam, Sami bin Abdullah al-Maghluts.
           
Share on Google Plus

About Ahsanul Qurun

0 komentar:

Post a Comment