Oleh : Abu Jundul
Malik
bin Nabi dan Muhammad Al Ghazali pernah menulis tentang 'Alqobiliyah lil Isti'mar' (umat yang
pantas dijajah). Dijelaskan
di situ ada sebagian anak bangsa yang justru menyambut baik penjajahan, bahkan
mereka gembira dengan penjajahan tersebut. Kemudian Sayyid
Quthb menulis tentang 'Alqobiliyah lil Isti'bad' yang menjelaskan ada manusia
yang memang layak diperbudak bahkan bangga. Sayyid Quthb menjelaskan ada tipe
manusia yang sudah dilahirkan merdeka, tapi tetap mencari jalan untuk menjadi
budak. Sekarang kita temukan fenomena seperti tulisan-tulisan mereka. Kita
sering temukan orang yang sebenarnya terpelajar tapi mau dijadikan bebek. Dipecut dikit dia
langsung gerak tanpa fikir. 'Sami'na wa Atha'na bilaa tafkir'. Padahal
mereka dilahirkan dalam keadaan merdeka, punya pilihan untuk berkata iya atau
menolak, tapi mereka memilih 'membebek'. Mereka
ini sebenrnya korban. Ada kelompok yang membuat mereka spt itu. Ini terjadi
bisa atas nama negara, agama atau organisasi. Kalau kita lihat dari
kaca mata islam, tidak
ada tempat untuk sifat 'membebek' seperti ini. Sebagaimana tertera dalam surat Al-Insan ayat 3 atau surat Al-Balad
ayat 10.
Islam memberi kita kesempatan untuk memilih,
bukan sekedar manggut-manggut tanpa memahaminya. Allah menciptakan manusia dengan
kebebasan memilih dan berfikir, itu semua bukan untuk disia-siakan tapi untuk
digunakan. Jika tidak
artinya ia kufur. Dan sikap 'membebek'
yang sering kita lihat adalah memberikan selembar
kepercayaan atas dasar taat atau cinta tanpa banyak fikir. Ini sering kita temukan
di internal partai atas nama loyal kepada partai kita harus mengatakan iya
sebelum berfikir.
Atau dalam sebuah organisasi atas nama taat anggota harus setuju dengan semua
keputusan organisasi, padahal tidak mengerti
apa-apa. Ini sering terjadi di
internal gereja di abad pertengahan. Semua disuruh patuh kepada keputusan
gereja tapi mereka tidak
boleh membaca Injil. Memang dalam agama islam ada aturan 'Sami'na wa atha'na',
tapi dalam
makna mendengar sambil berfikir, bukan mendengar sambil bengong.
Ketika
hal itu telah dipahami,
barulah lahir kata ta'at. Begitulah Islam menghargai isi dalam tempurung kepala
itu. Bagaimana bisa dalam berpartai kita
dilarang berfikir, bahkan
dalam urusan akidah terbesar saja,
tentang keberadaan Allah kita disuruh berfikir. Fenomena 'membebek'
ini sering membuat kita tertawa. Jika junjungan mereka yang memerintah, benar
atau salahnya itu tidak penting. Tapi
ketika perintah datang dari lawan, meski seribu wali berkata benar mereka tetap
akan menolak. Ini model bani Israil yg dikatakan Nabi: “Kalau yg mencuri
dari pembesar mereka, maka mereka akan diam, tapi kalau rakyat kecil akan mereka
habisi.”
Kader
partai model begini
sangat mudah dimanfaatkan pihak lain. Tinggal
pegang pembesarnya maka kader akan bergerak atas dasar taklid buta. Kader bergerak atas
dasar taat qiyadah atau jihad fi sabilillah, padahal mereka sedang menjadi
'bebek'. Tak seberapa jika hanya dengan menjadi ‘bebek’ qiyadah, mereka masih
orang sholih meski bodoh, lalu bagaimana nasibnya dengan menjadi ‘bebek’ pihak
lain?. Begitu berbahayanya sikap 'membebek' ini,
sampai Islam tidak memberi ruang baginya. Karena hal itu berlawanan dengan fitrah manusia. Jamaah dakwah atau partai yang ada embel dakwahnya harus benar-benar
lepas dari kebiasaan menjadikan kadernya ibarat 'bebek'. Karena dakwah itu
artinya membangun umat, membangun peradaban, mustahil berhasil jika dilakukan
dengan cara-cara binatang.
Begitu
juga sebagai kader, kita ini manusia, berjuang dengan cara manusiawi, tujuan
kita membangun manusia, maka jangan pernah bertindak bagai binatang. Pemimpin
ideal menurut islam itu yang meminpin dengan cara yang disukai oleh rakyatnya,
bukan malah sebaliknya.

Mantul
ReplyDeleteabu jundul siapa?
ReplyDelete