Oleh : Anja Hawari Fasya
Dikotomi
ilmu pengetahuan rasanya akan berdampak pada kemandegan dan kesempitan hidup.
Mengutip kata-kata M.Natsir tokoh Masyumi ‘’ Barat dan Timur milik allah pendidikan tidak perlu mempertentangkannya
karena Islam hanya mengenal yang haq (baik/benar) dan bathil
(buruk/salah). Segala yang baik harus diterima walau dari Barat. Sebaliknya,
semua yang bathil wajib disingkirkan meskipun produk ketimuran.’’
Salahsatu
produk pendidikan belanda ialah adanya dikotomi ilmu pengetahuan antara kaum
santri dan siswa umum. Santri yang acapkali di cap sebagai manusia yang
sepenuhnya mengerti ilmu akhirat dan siswa umum di beri label si sekuler hanya
berhenti pada ilmu dunia semata. Adanya dikotomi ini kadang menyebabkan
perdebatan yang kerap panjang hingga berlusin-lusin duel argumen saling tikam
menikam.
Islam
merupakan agama yang mengajarkan kepada umatnya tentang ilmu pengetahuan
‘’Iqra’’-Firman Allah SWT. Perintah membaca ini begitu luas interpretasinya.
Kita perlu membaca kembali fenomena sosial dan alam sekitar. Ilmuan-ilmuan
islam zaman dahulu tidak alergi dengan ilmu pengetahuan yang berkembang, mereka
dengan giat menyelam demi memungut mutiara hikmah dimana pun ia berada.
Tercatat Ibnu Hayaan, Al biruni, Ibnu sina, Al razi, Al thusi merupakan
salahsatu pemikir hebat pada zamannya. Lalu apa salahnya jika dewasa ini
seorang santri menyelami ilmu fisika, biologi, kimia, geo politik, Ekopol, filsafat
dan beragam pengetahuan di luar kitab-kitabnya ? atau seorang siswa umum
menyelami pelajaran tafsir quran, nahwu sorof, usul fiqih serta kitab-kitab
pengetahuan agama ?
Sejatinya
perbedaan itu rahmat, Allah menciptakan perbedaan untuk melakukan sinkronisasi
antara ilmu-ilmunya. tidak setiap orang yang mempelajari teori-teori barat itu
kita cap sebagai hamba pemikir barat (abid al fikr al gharbi) atau kita tuding
kiblat mereka bukanlah kab’ah lai sudah beralih menjadi london,paris dan
moskow. Tidak setiap orang yang mempelajari agama pula kita sebut eklusif,tak
rasional, enggan berpikir kritis atau disebut sebagai agen paham-paham
keyakinan yang bersifat fundamentalistik integristik-total sebab sepintar dan
setinggi apapun ilmu. Akal manusia pasti selalu membutuhkan petunjuk allah berupa
wahyu.
Seharusnya
ilmu yang kita punya menjadi jembatan asyik untuk saling bertukar ilmu dan
menambah cakrawala berpikir. Gesekan-gesekan kecil beda padangan seharusnya di
jadikan Perdebatan produktif untuk tetap meningkatkan kualitas keilmuan disertai
rasa tawadhu mendalam kepada Allah SWT. Kaum santri dan siswa bergerak bersama
membangun masyarakat secara progres.Mengingat dalam ajaran islam yang di
utamakan adalah rasa kemanusiaan. Amal baik, dan perlindungan terhadap yang
lemah. Masa depan islam kita masih penuh dengan tanda tanya namun disamping ini
masih ada harapan yang bertiup, ruan-ruang demokratik mulai terkuak dan
kebisuan mulai di gantikan oleh seruan-seruan perubahan.
Kita
berharap banyak dengan adanya pendidikan bisa mewujudkan dunia yang penuh
dengan kesejahteraan. Dan tentunya santri dan siswa muslim yang cerdas bukanlah
menjadi penerjemah karya-karya dari pengarang asing semata yang tidak dapat
memberi manfaat sama sekali pada umat tetapi harus juga melibatkan diri dalam
menemukan, menyeru semangat kuat pemberi kehidupan didalam masyarakatnya.

0 komentar:
Post a Comment