Kaligrafer Hebat Tasikmalaya


Oleh Muhammad Al-Fudhel

“Kaligrafi itu harus dengan latihan bukan bayangan. Syaratnya kau harus sabar, teliti, dan professional dalam mengolah huruf, desain, serta paduan warna." -Ust. Rahmatullah

Kehidupan manusia tidak terlepas dari seni. Dimana seseorang didorong oleh keinginan untuk menghasilkan sebuah karya yang bermutu dilihat dari sudut kehalusannya, keindahannya, fungsinya, bentuknya, makna dari bentuk dan lain-lain. Terdapat beberapa jenis seni salah satunya adalah seni tulisan indah atau yang dikenal dengan sebutan kaligrafi. Secara bahasa kaligrafi berasal dari bahasa Yunani yaitu Kalios yang artinya indah dan Graph yang artinya tulisan.
Dalam kitab Athlasul Khat wa Al-Kutub karangan Habibulloh Fadzoli mengatakan bahwa era perkembangan kaligrafi Arab terbagi menjadi enam. Pertama ; Periode Pertumbuhan,  dimana pada saat itu huruf Arab belum memiliki tanda baca atau masih gundul, gaya kufi muncul saat periode ini. Kedua ; Masih periode pertumbuhan,  dimulai saat kekhilafan Bani Umayah. Pada era kedua ini gaya kufi semakin berkembang indah, dan banyak bermunculan gaya yang lain seperti tsulus, naskhi, muhaqqaq, raihani dan lai-lainn. Ketiga ;  Periode penyempurnaan, dimana pada periode ini banyak bermunculan kaligrafi lengkap dengan standarisasinya. Keempat ;  Periode Perkembangan Kaidah dan Metode, yaitu mulai ada harmonisasi dua gaya dalam satu kanvas. Kelima ;  Periode Pengelolaan, lebih memerhatikan pengembangan teknik. Keenam ; Yaitu pada saat Dinasti Mamluk berkuasa di Mesir, dan puncaknya pada masa Turki Utsmani.
Banyak tokoh yang menjadi pelopor perkembangan kaligrafi Arab seperti  Al-Raihani (834 H), Ibn Muqlah (940 H), Yaqut al-Mutshimi—di penghujung masa Abasiyah. Di Indonesia sendiri kita bisa temui banyak sekali kaligrafer handal, dimana kalangan masyarakat Indonesia pun menjadikan seni kaligrafi dengan khasnya memakai bahasa Arab. Meski sebenarnya kaligrafi adalah sebuah tulisan indah yang tidak harus tulisan Arab.
Di antara banyak tokoh kaligrafer Indonesia, saya mengenal seorang tokoh kaligrafer dari Tasikmalaya tepatnya di kampung Arjasari, desa Arjasari, kecamatan Leuwisari. Karya beliau sudah sampai ke Singapura, Malaysia, Papua, bahkan pernah dilelang oleh salah seorang syaikh dari Palestina. Beliau adalah Ustadz Rahmatullah.
Ustadz Rahmatullah lahir di Bondowoso (Jawa Timur) tahun 1974 tepatnya tanggal 8 April . Beliau terlahir bukan dari keluarga seniman. Namun sejak kecil dari mulai kelas 3 SD beliau sering membantu saudaranya untuk membuat kerajinan lampu triplek. Sehingga sang ayah pun melihat potensi beliau, kemudian membelikan peralatan untuk membuat lampu triplek sendiri. Dan alhamdulillah saat beliau memasuki kelas 5 SD karya seninya sudah masuk pameran antar kecamatan.
Ketika menduduki bangku SMP beliau masuk sanggar seni di Bondowoso, setiap satu pekan satu kali beliau selalu membuat karya seni ukir. Kemudian beliau masuk SMA pertanian. Selepas SMA beliau menginginkan masuk pondok pesantren, namun sang ayah tidak mengijinkan karena beliau sudah terikat kontrak, beliau pun diberangkatkan ke Malang selatan.
Dengan seidikit pengetahuan ilmu agama yang beliau dapat di bangku SMA, beliau merasa jika beliau tetap berada di Malang selatan  akan membuatnya semakin bodoh, karena dahulu di sana masih banyak orang yang melakukan ritual-ritual yang berbau kemusyrikan. Dengan sisa uang 60.000 dan tekad yang kuat beliau berangkat ke Jakarta. Beliau jualan minuman di Tanah Abang. Tidak berselang lama dengan bekal ilmunya, beliau mulai mengasah kembali jiwa seninya, beliau masuk sanggar kaligrafi selama satu tahun di Jakarta.
Pada tahun 1997 beliau pergi belajar agama Islam di pondok pesantren Al-Mukhtar, Padakarya, Tasikmalaya. Alhamdulillah selama dua tahun belajar di ponpes al-Mukhtar, Allah Ta’ala pertemukan beliau dengan seorang wanita yang sekarang menjadi pasangan hidupnya. Nani Nuryani sang istri tercinta.
Tahun 2003 beliau pergi ke Sukabumi untuk mematangkan ilmu kaligrafinya di pondok LEMKA (Lembaga Kaligrafi Al-Quran). Tak lama kemudian, setelah dua bulan setengah di pondok LEMKA Sukabumi, beliau terpaksa pulang ke Tasikmalaya karena istrinya melahirkan buah hatinya yang kedua. Dengan ilmu kaligrafi  yang sudah beliau kuasai, beliau mengikuti pameran kaligrafi yang diselenggarakan di Garut, Jawa barat.
Qadarullah di Garut beliau berjumpa dengan pimpinan pondok LEMKA Sukabumi. Drs. Didin Sirajuddin. AR. Beliau mengatakan bahwa  karya seni kaligrafi yang ia buat lebih bagus, lebih menarik daripada karya-karya lain yang telah belajar kaligrafi satu tahun di LEMKA. Begitulah beliau mendapat sertifikat resmi dari LEMKA walaupun beliau hanya belajar kaligrafi selama kurang lebih dua bulan di LEMKA Sukabumi.
Alhamdulillah karya kaligrafer asal kampung Arjasari, desa Arjasari, kecamatan Leuwisari Tasikmalaya ini telah terjual hingga mancanegara seperti Singapura dan Malaysia. Beliau merupakan salah satu tokoh yang menjaga dan melestarikan kaligrafi Islam.
Beliau berpesan kepada kita bahwa, “Kaligrafi itu harus dengan latihan bukan bayangan. Syaratnya kau harus sabar, teliti, dan professional dalam mengolah huruf, desain, serta paduan warna. Beliau sekarang adalah salah satu staf pengajar di Pondok Pesantren Islam Al-Fathonah Leuwisari Tasikmalaya.
Di antara karya-karya beliau :













Share on Google Plus

About Ahsanul Qurun

0 komentar:

Post a Comment