Gaduh? Belajarlah dari Alat Transportasi





Oleh : Ilma Insani Al-Fudhel

Saudara yang senantiasa dirahmati Allah Subhânahu wata’âla, di masa ini kita telah banyak menyaksikan berbagai alat canggih yang membuat kita terkagum ketika melihatnya. Tak terkecuali alat transfortasi, dari mulai kereta eksekutif sampai kendaraan pribadi yang antik, semua bisa kita saksikan di berbagai kota bahkan sampai pelosok dunia.Namun, tidakkah kita sebagai ummat Muslim mengambil pelajaran dari semua ini. Kita melihat kereta yang berbeda jenis namun tujuannya sama. Kita melihat berbagai jenis bis yang tujuannya sama. Kita melihat berbagai jenis kapal dan pesawat yang berbeda namun tujuannya sama. Kemudian hikmah serta pelajaran apa yang bisa kita petik dari semua ini?

Bertanyalah kepada diri kita sendiri, mengapa mereka, masinis, sopir, nahkoda, dan pilot tidak saling menabrak untuk membuktikan siapa yang terbaik? Jawabannya adalah karena mereka tahu bahwa ketika mereka melakukan hal tersebut, penumpang yang ada bersama mereka akan celaka, bahkan meninggal dunia. Mereka saling menghargai, legowo, dengan perbedan mereka karena mereka tahu bahwa tujuan akhir mereka sama, walaupun jalan yang mereka tempuh berbeda. Kecuali ada pengendara yang tidak ta’at terhadap rambu-rambu yang sudah ditetapkan. Maka pengendara tersebut akan mendapatkan sanksi sesuai dengan pelangggaran yang dilakukannya.

Yang membedakan hanyalah kualitas dari kendaraan tersebut. Yang bisa menaiki transportasi kelas eksekutif hanyalah mereka yang mempunyai kelebihan dalam hal finansial. Kendaraan cepat yang tepat waktu hanyalah untuk mereka orang-orang penting, yang memiliki peran dalam suatu urusan. Oleh karena itu, mari kita jadikan kendaraan yang kita tumpangi sebagai kendaraan kelas eksekutif, dalam artian merubah diri kita menjadi manusia yang memiliki peran penting dalam kehidupan. Malulah kita jika hidup hanya sebagai benalu

Jika kita bisa mengambil pelajaran dari semua ini. Nisacaya kita akan heran, mengapa masih banyak ummat Muslim di antara kita yang saling bersilang selisih, padahal tujuan kita sama? Dan yang diperselisihkan adalah masalah furu’iyah. Masih banyak ummat Muslim saat ini yang Saling menjatuhkan, menyalahkan, bahkan sampai tingkat mengkafirkan, hanya karena mereka berbeda kelompok, jama’ah, atau pun ormas. Yang mnesti kita lakukan adalah berlomba-lomba dalam kebaikan, tanpa harus saling menjatuhkan kawan.

Melakukan sebuah kebenaran itu wajib, namun merasa paling benar adalah sebuah kejelekan. Berbuat kebaikan itu wajib, namun merasa paling baik adalah sebuah kesalahan. Ummat Muslim saat ini hendaknya kita sadar bahwa sudah bukan masanya lagi kita saling bertengkar, menyalahkan, mengkafirkan, karena semua ini hanyalah akan membuat musuh islam tertawa, mereka bisa mengahncurkan islam tanpa turun tangan.

Oleh karena itu, marilah kita ummat Muslim bersatu padu untuk menyi’arkan agama ini. Mari kita saling melengkapi kekurangan, dan saling memberi semangat untuk selallu melakukan kebaikan. Ingatlah ummat berkualitas sampai tujuan tepat waktu, tanpa menyombongkan diri bahwa akulah yang paling benar.

Kita perlu ingat bahwa jika ummat Muslim saat ini berpecah belah, maka musuh islam dan orang-orang munafik akan mudah menghancurkan ummat islam. Walau pun kita percaya bahwa, “Mereka bisa menghancurkan bunga, namun mereka tidak bisa menolak musim semi. Mereka bisa saja menghancurkan ummat islam, namun mereka tidak bisa menolak kekhilafahan.” Tinggal kita sebagi ummat Muslim memilih apakah kita akan berperan di dalamnya atau tidak? Apakah kita akan bersatu untuk menyambutnya atau tidak? Karena taman bunga akan terlihat indah, jika jenis dan wana bunganya berbeda-beda. Dan pelangi nampak menawan, ketika warna di dalamnya bermacam-macam. Tanpa ada satu bunga pun, atau satu warna pun yang merasa paling berperan dalam keindahan tersebut.







Share on Google Plus

About Ahsanul Qurun

0 komentar:

Post a Comment